
Pelaksanaan program bongkar ratoon di sejumlah wilayah menuai keluhan dari petani. Program yang seharusnya mendukung peremajaan tanaman dan meningkatkan produktivitas itu dinilai belum berjalan optimal karena adanya keterlambatan distribusi serta persoalan kualitas bibit.
Dari tiga perusahaan penyedia yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut, dua di antaranya mendapat sorotan dari petani, yakni CV Jaya Rosan dan CV Sungguh Menawan. Keduanya diduga tidak profesional dalam memenuhi kewajiban pendistribusian bibit kepada kelompok tani penerima program.
Keluhan petani terutama berkaitan dengan jadwal pengiriman yang terlambat atau molor dari waktu yang telah direncanakan. Selain itu, sebagian bibit yang diterima disebut berukuran kecil, lemah, mengalami kerusakan, bahkan ditemukan dalam kondisi mati sehingga dinilai tidak layak untuk ditanam.
“Distribusinya terlambat. Ketika bibit datang, ukurannya kecil-kecil dan banyak yang sudah mati. Akibatnya, jadwal tanam kami ikut mundur,” kata salah seorang perwakilan petani.
Keterlambatan pengiriman dinilai tidak hanya mengganggu jadwal tanam, tetapi juga berpotensi menambah beban petani. Bibit yang datang dalam kondisi buruk dapat menyebabkan penanaman ulang, pertumbuhan tanaman tidak optimal, hingga risiko kegagalan program di tingkat penerima manfaat.
Petani menilai perusahaan penyedia seharusnya tidak hanya berorientasi pada penyelesaian administrasi dan kontrak, tetapi juga bertanggung jawab memastikan bibit diterima tepat waktu, tepat jumlah, dan sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan.
Berbeda dengan dua perusahaan tersebut, CV Lang Buana justru memperoleh apresiasi dari sejumlah petani. Perusahaan itu dinilai mampu memenuhi target distribusi sesuai jadwal serta menjaga kondisi bibit agar tetap layak saat diterima oleh kelompok tani.
Menurut petani, perbedaan kinerja antarpenyedia menunjukkan bahwa keterlambatan dan buruknya kualitas bibit seharusnya dapat dihindari apabila pekerjaan dilaksanakan dengan perencanaan, pengawasan, dan tanggung jawab yang baik.
Atas kondisi tersebut, petani meminta Menteri Pertanian melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perusahaan yang terlibat dalam program bongkar ratoon. Evaluasi dinilai penting untuk mengetahui apakah pelaksanaan distribusi telah sesuai dengan kontrak, spesifikasi teknis, dan standar mutu yang ditentukan.
Petani juga meminta agar perusahaan yang terbukti tidak mampu memenuhi kewajibannya tidak lagi ditunjuk atau dilibatkan dalam pelaksanaan program serupa pada masa mendatang. Langkah tegas diperlukan agar tujuan program pemerintah tidak terganggu akibat buruknya kinerja pelaksana di lapangan.
“Jangan sampai program yang sebenarnya bagus menjadi gagal hanya karena pelaksananya tidak profesional. Kami meminta pemerintah memilih perusahaan yang benar-benar mampu bekerja, tepat waktu, dan menjaga kualitas bibit,” ujar petani.
Selain meminta perhatian Menteri Pertanian, petani juga mendesak dinas terkait untuk memperketat pengawasan sejak tahap pemeriksaan bibit, pengiriman, hingga serah terima kepada kelompok penerima. Bibit yang tidak sesuai standar seharusnya ditolak dan diganti, bukan tetap disalurkan kepada petani.
Pemerintah juga diminta membuka hasil evaluasi kinerja masing-masing penyedia secara transparan. Apabila ditemukan keterlambatan, ketidaksesuaian mutu, atau pelanggaran terhadap ketentuan kontrak, perusahaan terkait harus diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada CV Jaya Rosan, CV Sungguh Menawan, dan dinas terkait masih dilakukan. Redaksi tetap memberikan ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini.






